Pelemahan Indeks Dolar US Diikuti Dengan Naiknya Harga Emas

288
pelemahan index dollar

Netizen7.ID – Setelah terkoreksi cukup dalam, harga emas akhirnya berhasil memantul akibat pelemahan indeks dolar AS. Namun, komoditas tersebut tetap mengalami tekanan besar sampai akhir tahun akibat proyeksi pengerekan suku bunga Federal Reserve pada bulan depan.

Pada perdagangan Senin, 28 November 2016 pukul 17:50 WIB, harga emas gold spot naik 7,53 poin atau 0,64 persen menuju ke US$ 1.191,08 per troy ounce atau Rp 515.706,79 per gram. Adapun harga jual emas Antam naik Rp 1.000 per gram ke level Rp 550.60-Rp590.000 per gram. Sementara itu, harga buyback juga meningkat Rp1.000 menuju Rp514.000 per gram. Penguatan emas terdorong oleh pelemahan dolar. Kemarin pada pukul 18:05 WIB, indeks dolar terpantau turun 0,31 poin atau 0,31 persen menuju ke 101,18. Angka ini menunjukkan kenaikan 2,59 persen sepanjang tahun berjalan.

Anthem Blanchard, Chief Executive Officer Anthem Vault,perusahaan investasi, mengatakan harga emas telah tertekan akibat menguatnya data ekonomi dan prospek belanja AS setelah terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Membaiknya ekonomi Paman Sam juga memicu naiknya peluang The Fed untuk mengerek suku bunga.

Di sisi lain, selera investor terhadap aset lindung nilai seperti emas berkurang sehingga cenderung melakukan aksi jual. Puncaknya terjadi pada Kamis, 24 November 2016, harga gold spot berada di posisi US$ 1.181,67 yang menjadi level terendah dalam 9 bulan terakhir.

Kejatuhan harga yang begitu rendah membuatnya mengalami rebound teknikal. Balnchard juga menilai saat ini merupakan masa tenang sebelum Federal Open Market Committee (FOMC) pada 13-14 Desember 2016. Probabilitas peluangnya kini sudah mencapai 100 persen, sehingga dipercaya dapat terjadi.

“Ada pendapat yang menyatakan ini merupakan masa tenang sebelum badai . Kenaikan suku bunga seperti tahun lalu akan menjadi katalis nyata bagi harga emas,” kata Blanchard, Senin, 28 November 2016. Tahun lalu, The Fed melakukan pengerekan suku bunga pada Desember 2015. Hal yang sama diperkirakan terjadi kembali pada tahun ini, setelah sebelumnya merencanakan kenaikan bertahap sepanjang 2016.

Para trader yakin The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan depan, sehingga membatasi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil yang diharapkan. Berdasarkan data Bloomberg, kepemilikan emas di bursa turun 85,5 ton sepanjang November menuju 1.902 ton yang merupakan level terendah sejak Juni 2016. George Gero, Managing Director RBC Wealth Management, menuturkan setiap ada sentimen yang membuat The Fed menyatakan hawkish, maka emas akan mengalami penurunan.

Deddy Yusuf Siregar, Analis Asia Tradepoint Futures, mengatakan liburnya pasar AS untuk perayaan Thanksgiving memberikan ruang bagi emas untuk menguat karena pelemahan dolar AS. Namun, tren negatif terhadap logam mulia belum akan berubah.

Pergerakan indeks dolar AS akan berkebalikan dengan harga emas. Pasalnya, investor menganggap harga emas terlalu mahal dan beralih ke dolar sebagai aset lindung nilai.

“Penguatan emas juga sifatnya masih terbatas karena masih bergulir di bawah level psikologis US$ 1.200 per troy ounce. Pelaku pasar percaya bila emas masih berada di bawah harga tersebut, maka emas masih berada dalam periode bearish,” ujarnya.

Dalam sepekan ini, lanjut Deddy, pergerakan harga emas akan ditentukan oleh sejumlah rilis data ekonomi AS, seperti data Produk Domestik Bruto (PBD), indeks kepercayaan konsumen, dan data tenaga kerja atau non farm payroll (NFP). Pada Selasa, 29 November 2016, Biro Statistik Ekonomi setempat akan melansir PDB preliminary periode kuartal III 2016. Konsensus analis memperkirakan data akan naik menjadi 3 persen dari PDB advance sebesar 2,9 persen.

Sebagai informasi, data PDB AS dikeluarkan dalam tiga tahap, yakni advance (terdepan), preliminary (selanjutnya), dan final (akhir). Data yang keluar pada besok merupakan PDB preliminary. Dalam tanggal yang sama, indeks kepercayaan konsumen periode Oktober 2016 juga akan dirilis. Konsensus memprediksi indeks akan naik menjadi 101,3 dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 98,6.

Adapun pada Jumat, 2 Desember 2016, pasar menunggu rilis data tenaga kerja AS periode November 2016. Data NFP diperkirakan meningkat menjadi 165 ribu dari sebelumnya 161 ribu, sedangkan tingkat pengangguran stabil di posisi 4,9 persen. Deddy menyebutkan, bila data-data ekonomi AS pada pekan ini menunjukkan perbaikan maka harga emas semakin tertekan. Dia memprediksi sampai akhir tahun harga gold spot akan berada di posisi US$ 1.133–US$ 1.072 per troy ounce.

Bagikan