Fidel Castro Tutup Usia, Kuba Tetapkan Hari Berkabung Nasional 9 Hari

241

Netizen7.ID – Mantan presiden Kuba, Fidel Catro meninggal dunia di Havana, Kuba. Pemimpin Kuba itu menghembuskan napas terakhir pada usia 90 tahun. Sang adik, Presiden Raul Castro mengumumkan wafatnya ikon revolusi Kuba itu pada Jumat (25/11) malam waktu setempat seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (26/11/2016). “Panglima tertinggi revolusi Kuba meninggal pada pukul 22.29 malam ini,” ujar Presiden Raul mengumumkan di televisi nasional Kuba. Rakyat Kuba belum lama ini merayakan ulang tahun Castro yang ke-90 pada 13 Agustus lalu. Saat itu, ribuan warga turun ke jalan-jalan di ibukota Havana, sembari menari-nari mengikuti alunan musik berirama Latin.

Fidel Castro merupakan Presiden Kuba dengan masa pemerintahan paling lama. Dilahirkan pada 13 Agustus 1926, Castro merupakan anak seorang petani gula imigran dari Spanyol. Dia bergabung dengan Partai Rakyat Kuba tahun 1947. Dia kemudian merebut kekuasaan tahun 1959 dan mendirikan negara komunis dan merupakan penganut ideologi Marxisme. Castro juga dikenal sebagai tokoh organisasi non blok dan tetap mempertahankan idiologi komunis walaupun banyak negara komunis runtuh.

fidel-castro-tutup-usia-2

Dengan tutup usianya Fidel Castro, pemerintah Kuba menyatakan hari berkabung nasional untuk menghormati kematian ikon revolusi Kuba, Fidel Castro. Hari berkabung nasional itu akan diperingati selama 9 hari. “Pada 26 November hingga 4 Desember semua aktivitas publik dan acara akan berhenti, bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang di seluruh bangunan umum dan instansi militer,” tulis pernyataan dari pejabat eksekutif Kuba, seperti dikutip dari kantor berita AFP, Minggu (27/11/2016). “Abu kremasi Castro akan dikuburkan di kota selatan Santiago pada 4 Desember setelah melalui prosesi empat hari melewati negara,” tambah dia.

Hal tersebut diumumkan oleh Presiden Raul Castro, yang merupakan adik dari Castro. “Dengan kesedihan mendalam, saya memberitahukan rakyat kami, teman-teman Amerika kami dan teman-teman dunia kami bahwa pada 25 November pukul 22.29, panglima tertinggi revolusi Kuba Fidel Castro Ruz telah meninggal dunia,” kata Presiden Raul Castro dalam pengumumannya di televisi nasional Kuba seperti dilansir NBC News, Sabtu (26/11/2016). “Sesuai dengan wasiat yang disampaikan Fidel, jasadnya akan dikremasi pada Sabtu, 26 November pagi. Komisi yang mengatur pemakaman akan memberikan informasi detail untuk rakyat kami mengenai prosesi pemakaman yang akan memberikan penghormatan terakhir untuk sang pendiri revolusi Kuba,” demikian disampaikan Presiden Raul.

fidel-castro-tutup-usia-3

Raul tidak menyebutkan penyebab kematian Castro. Namun kondisi kesehatan Castro dilaporkan menurun setelah dirinya menjalani operasi usus pada tahun 2006. Dia menyerahkan kekuasaan secara temporer kepada sang adik, Raul pada tahun 2006 setelah operasi tersebut. Kemudian penyerahan kekuasaan dilakukan secara resmi pada tahun 2008. Sebelumnya pada November 2005, badan intelijen Amerika Serikat, CIA mengumumkan bahwa pihaknya menyimpulkan Castro menderita penyakit Parkinson. Kesimpulan itu diperoleh CIA dari penampilan-penampilan Castro di depan publik dan berdasarkan opini para dokter yang dipekerjakan oleh CIA.

Semasa hidupnya, ikon revolusi negeri komunis itu telah lolos dari ratusan upaya pembunuhan. Seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (26/11/2016), Castro mengklaim dirinya berhasil lolos dari 634 percobaan pembunuhan dirinya, yang sebagian besar didalangi oleh badan intelijen Amerika Serikat, CIA dan organisasi-organisasi pengasingan yang berbasis di AS. Media-media melaporkan, upaya-upaya pembunuhan Castro tersebut di antaranya menggunakan pil-pil beracun, cerutu beracun, dan pakaian menyelam yang mengandung zat kimia. Namun meski adanya ratusan upaya pembunuhan tersebut, Castro bertahan dan terus menjabat sebagai presiden terlama di Kuba. Castro telah memimpin Kuba selama hampir lima dekade dan merupakan kepala negara yang menjabat terlama ketiga di dunia, setelah Ratu Inggris Elizabeth dan Raja Thailand Bhumibol Adulyadej.

Bagikan