Adu program 3 Calon Gubernur DKI Hadapi Kemacetan Jakarta

639

Netizen7.ID – Pilgub DKI 2017 tengah memasuki masa kampanye. Berbagai program, janji manis ditebar tiga pasangan kandidat demi meraih kursi gubernur dan wakil gubernur periode 2017 hingga 2022. Salah satu persoalan Jakarta yang menjadi sorotan yakni terkait kemacetan. Macet adalah salah satu ‘penyakit’ kota metropolitan. Setiap hari, Jakarta dirundung macet.

Oleh sebab itu, suatu hal yang wajar jika calon gubernur menjual solusi atasi macet Jakarta agar dipilih oleh warga ibu kota. Agus Yudhoyono – Sylviana Murni, Basuki T Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan – Sandiaga Uno punya cara masing-masing menjawab kemacetan Jakarta.

Misalnya saja Sandiaga Uno, dia ingin membatasi mobil mewah di Jakarta untuk menghindari kemacetan. Namun cara ini menuai pro kontra. Lalu bagaimana program atasi kemacetan tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta ini? Berikut dihimpun merdeka.com, Sabtu (26/11):

AHY – Sylvi

ahy-sylvi

Pasangan nomor urut satu ini memasukkan solusi macet di dalam salah satu visi dan misinya membenahi Jakarta. Agus juga punya keinginan membebaskan Jakarta dari persoalan macet. Agus mengatakan, hal pertama yang bisa dilakukan yaitu dengan mengurangi dan membatasi penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya. Menurutnya, kemacetan bisa berkurang bila warga memaksimalkan penggunaan transportasi publik.

“Secara bersamaan, kita tingkatkan jumlah dan juga kualitas public transportation atau transportasi publik di jalan raya,” jelasnya. Hal lain yang akan dilakukan yaitu, pihaknya akan menambah ruas-ruas jalan, baik di atas maupun di bawah tanah. Sementara yang terakhir, pihaknya akan fokus pada manajemen lalu lintas.

“Yang terakhir, kita harus meningkatkan kualitas manajemen lalu lintas secara terukur dan proporsional,” tuturnya. Dia yakin bahwa empat cara tersebut bisa dijadikan penentu akan kemampuannya dalam mengurangi kemacetan di Jakarta. “Kemacetan yang menjadi sumber banyak permasalahan, yang kita tahu mengurangi waktu produktivitas kita dan mengurangi waktu kita bertemu dengan keluarga,” ucapnya.

Ahok-Djarot

Basuki atau akrab disapa Ahok ini mengatakan, pembatasan kendaraan sebagai langkah mengatasi kemacetan sebenarnya sudah lama diperdebatkan. Terutama saat low cost green car (LCGC) mulai memasuki pasar otomotif Indonesia.

“Mungkin kalau teori itu kita bisa berdebat juga. Dulu ingat enggak waktu keluar mobil low cost, yang murah itu loh. Semua ahli mengatakan kalau dibiarkan mobil murah dijual maka kemacetan akan makin meningkat. Jadi sekarang mau ngikutin teori siapa,” katanya di Rumah Pemenangan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (25/11).

Sedangkan, mantan Bupati Belitung Timur itu memiliki pandangan berbeda. Dia menilai, seharusnya penggunaan mobil murah harus dibatasi. Selain memperpadat jalan, juga mengonsumsi banyak bahan bakar.

“Jadi kalau bagi kami subsidi menengah ke bawah adalah membangun kereta api MRT kepada mereka. Jadi yang kaya-kaya mau pakai mobil Rp 300 silakan. Pajak BPKB dan STNK mengikuti harga mobil,” terangnya. Bahkan, Ahok menganggap semakin banyak mobil yang mengaspal akan segera menguntungkan Pemprov DKI Jakarta. Mengingat dalam waktu dekat akan segera diterapkan sistem jalan berbayar, Electronic Road Pricing (ERP).

“Saya senang kalau orang beli mobil mewah-mewah silakan saja, tetapi kalau kamu mau pakai jalan mau lewat dikenai bayaran,” tutupnya.

Anies – Sandiaga

Anies menuturkan, kemacetan di Jakarta terjadi karena jumlah kendaraan lebih banyak ketimbang ukuran dan panjang jalan yang tersedia. Menurutnya, salah satu solusinya adalah mengurangi volume kendaraan yang mengaspal.

“Kenapa sih jadi macet. Jumlah kendaraan di jalanan terlalu banyak dibanding panjang jalan enggak sama. Sekarang di gang kalau orang banyak macet juga. Cara kita mengurangi jumlah kendaraan di jalan,” jelasnya. Solusi lain yang ditawarkan Anies adalah membuat warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal. Caranya, lanjut dia, dengan meningkatkan pelayanan transportasi massal menjadi lebih nyaman dan murah.

“Bagaimana? Makin banyak yang menggunakan kendaraan bersama-sama. Harus dibuat dua berubah. 1 Nyaman, 2 harus terjangkau. Karena itu nanti programnya meningkatkan pelayanan kendaraan umum di Jakarta. Disubsidi biar terjangkau,” pungkasnya.